Halaqoh Kebangsaan "Islam Nusantara"

Islam Nusantara = Islam Kaffah ala NU

JAKARTA, ICRP – Intelektual muda Nahdlatul Ulama (NU) Akhmad Sahal membantah tudingan pandangan Islam Nusantara  bukan bagian dari cara berpikir muslim ASWAJA (Ahlusunnah Wal Jamaah). Sahal menegaskan Islam Nusantara merupakan corak berislam Ahlu Sunnah Wal Jamaah ala NU. Demikian menurut penuturan Sahal dalam Halaqoh Kebangsaan yang dilaksanakan Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (F-PKB) bertajuk “Islam Nusantara : Mengembangkan Sikap Toleran, Moderat, dan Mashlahah” di Gedung Nusantara I Lt. 18, Rabu (19/8).

“Jadi, Islam Nusantara ini ya Ahlusunnah Waljamaah ala NU,” ucap penyusun buku Islam Nusantara ini.

Sahal pun menolak bahwa Islam Nusantara merupakan pandangan keislaman yang anti syariah. Menurut Sahal justru sebaliknya, Islam Nusantara adalah pandangan keislaman yang pro terhadap syariah. Namun, kata mahasiswa doktoral di University of Pensylvania ini, Islam Nusantara memiliki kekhasan dalam menerapkan syariah. “Menurut saya Islam Nusantara justru adalah penerapan syariah ala NU atau Islam kaffah ala NU” tegas Sahal.

Menurut Sahal penekanan semacam ini penting. Mengingat, kerap kali kelompok islam transnasional semacam Hizbut Tahrir Indonesia tidak mau mengamini  keislaman NU sebagai keislaman yang kaffah.

Lalu apa yang dimaksud intelektual muda ini “penerapan syariah ala NU”?

Sahal menjelaskan yang dimaksud dengan penerpaan syariah ala NU adalah wajah keislaman yang ramah pada budaya. “Islam Nusantara adalah islam yang tidak memberangus budaya lokal sebagaimana yang diajakan oleh para Wali Songo,” ungkap Sahal.

Sebagaimana diketahui bersama, sembilan wali atau yang kerap dinamai wali songo ini dikenal sebagai tokoh-tokoh penyebar ajaran agama islam yang tidak kaku. Wali Songo kerap kali menggunakan budaya sebagai alat berdakwah.

Sahal menegaskan sikap para Wali Songo yang ramah semacam itu bukanlah tanpa berpijak pada ajaran islam. “Ulama bersepakat bahwa tujuan syariah adalah maslahat. Jika bicara maslahat, tiap masyarakat memiliki kepentingan yang berbeda dan berubaha sesusai tuntutan zaman. ini Penting,” ujar Sahal.

Dalam kesempatan ini, Akhmad Sahal juga menegaskan bahwa Islam Nusantara tidak mengubah hal yang permanen. “Islam Nusantara tidak mengkritik persoalan Aqidah, Solat dan sebagainya,” ucap Sahal. Namun, Islam Nusantara menurut Sahal bermain dalam wilayah muamalah.

Karna itu NU, yang menurut Sahal amat terinspirasi dengan corak pikir Wali Songo, ketika menghadapi kenyataan sosial tidak mutlak-mutlakan. “Implikasinya besar misalnya NU menerima pancasila. Para kyai ketika menerima Pancasila bukan karena mereka terinspirasi oleh Immanuel Kant, John Locke, tapi jelas mengikut Ushul fiqh dan Kaidah Fiqh,” tutur Sahal.

“Karena maslahat kini paling relevan diambil lewat jalur demokrasi, maka kyai-kyai NU menerima pancasila,” sambungnya.

Ini lah, yang kata Sahal, membedakan antara NU dengan HTI. Sahal sepakat bahwa Islam memang harus menyeluruh. Namun, menurut Sahal HTI keliru karena melihat semua problem sebagai sesuatu yang dinilai permanen dan tak dinamis. “Jadi HTI ini islam kaffah tanpa ushul dan kaidah fiqh,” jelas Sahal mengkritik para pendukung khilafah kini.

Dalam halaqoh kali ini selain mengundang Sahal selaku pembicara, FPKB juga turut mendaulat direktur International Center for Islam and Pluralism (ICIP) Syafiq Hasyim, dan ketua fraksi FPKB sendiri Helmy Faisal. Adapun yang menjadi keynote speaker siang itu adalah Rais Aam PBNU sendiri K.H. Maaruf Amin.

1.979 views

One comment

  1. istilah islam nusantara oleh Akhmad Sahal di atas yang digunakan untuk menamai ASWAJA ala Nu kayaknya kurang tepat kalau ada ASWAJA ala Nu nanti bsa juga yang mengaku ASWAJA versi yang lain akhirnya jadi bingung Mana ASWAJA yang sesungguhnya. mengenai penyebutana islam nusantara kayaknnya kurang tepat untuk di gunakan kalau kita pakai dalil wali songo maka sanggat disayangkan berabti islam nusantara itu bukan hanya indonesia bahkan boleh dikatakan islam nusantara itu memiliki kurang lebih ya asia tenggara sekarang ini, yangmana hasil dakwah wali songgo dan penerusnnya, trus apakah mereka juga diktakan islam nusantara? kalau mereka tidak d’sebut islam nusantara ana yang benar, mereka atau islam nusantara? namaun satu hal yang bisa melemahkan pandangan kalau islam nusantara ini berkaca pada pola dakwa wali songo, satuhal yang menjadi catatan yang perlu dikaji adalah sejarah walisongo yang mana yang mau di ambil, sedangkan sejarah wali songgo yang ada hanya laha kebanyakan katanya-katanta karena tidak ada jalur periwayatan yang jelas mengenai pole dakwa walisonggo yang sampai pada kita saat ini? masa kita dalam beragama apa berdasarkan sumber yang tidak pasti?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

3 × 2 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>