Divisi Perempuan icrp

Strategi Socialpreuner Memperjuangkan Hak-Hak Perempuan

ICRP, Jakarta – Puluhan ibu-ibu yang tergabung dalam perempuan lintas iman ICRP, Rabu (19/08/2015) kemarin melaksanakan konsolidasi membangun rencana strategi memperjuangkan hak-hak perempuan.

Ketua Yayasan ICRP, Musdah Mulia menyatakan, perempuan sering kali tidak mendapatkan ruang jika dihadapkan dengan kaum laki-laki, terutama arena agama. “setiap ada forum agama dan keagamaan pasti laki-laki yang mendominasi” tegasnya. Oleh sebab itu, Musdah menghimbau kepada perempuan-perempuan lintas agama ini untuk lebih aktif dan berani mengambil peran lebih signifikan.

Dalam kesempatan tersebut, turut hadir pula pendiri Yayasan Pulih, Dr. Livia Iskandar. Livia menceritakan upayanya dan lembaganya dalam memberikan pendampingan dan upaya pemulihan trauma kepada para perempuan yang mengalami tindakan kekerasan.

Olivia menyatakan pendidikan yang tinggi belum tentu menjamin tindakan kekerasan dalam rumah tangga tidak terjadi. “Justru semakin tinggi tingkat pendidikannya, kekerasan yang dilakukan terhadap perempuan juga semakin canggih” ungkapnya. Oleh sebab itu, butuh penangan dan konseling khusus untuk menangani, konseling rutin ke psikiater, misalnya.

Namun, sebagai aktivis pembela hak-hak perempuan, Olivia mengaku banyak rintangan yang harus dihadapi, terutama adalah persoalan biaya. Selama ini Yayasan Pulih hanya mendapatkan bantuan dari pemerintah sebesar 30 juta/tahun. Dengan uang sebesar itu, Yayasan Pulih harus bekerja keras untuk memenuhi biaya operasional kantor dan biaya untuk membayar psikiater profesional.

“Kita sudah mencoba membuat konseling dengan menggunakan sistem subsidi silang. Namun upaya tersebut ternyata tidak efektif, ” ungkapnya. Kondisi tersebut dirasakan semakin sulit, hingga sempat berpikir untuk menjual aset kantor mereka. Sementara di sisi lain banyak perempuan-perempuan korban kekerasan yang mengalami trauma berkepanjangan yang membutuhkan jasa konseling.

Olivia menuturkan, memang waktu itu idealisme Yayasan Pulih sebagai lembaga non-profit sangat kuat. Namun situasi kini berubah, banyak lembaga donor yang sudah tidak membiayai kegiatan lembaga swadaya masyarakat di Indonesia. Oleh sebab itu mereka memutuskan untuk bertransformasi, menjadi lembaga yang mandiri tidak tergantung pada lembaga pemberi bantuan.

Dengan konsep kewirausahaan sosial Yayasan Pulih mencoba untuk bangkit dengan membuka peluang-peluang usaha yang dapat memberikan keuntungan untuk keberlangsungan kegiatan konsultasi, klinik, dan advokasi hak-hak perempuan. Salah satu usaha mereka adalah healhty dan active ageing yang dikemas dengan profesional untuk kalangan orang tua. Kegiatannya beragam dan asyik tentunya, seperti senam otak, aktif bersosialisasi, dan lain-lain.

Olivia menegaskan lembaga-lembaga swadaya masyarakat di Indonesia harusnya belajar dari LSM di Amerika. LSM di Negeri Paman Sam menurutnya lebih kreatif dalam mendatangkan pembiayaan lembaganya. Mereka melakukan rencana, riset, dan konsep marketing secara rinci serta pintar dalam membangun networking. Dia berharap LSM yang ada di Indonesia terutama yang melakukan advokasi terhadap hak-hak perempuan dapat melakukan hal sama.

Sementara itu, perempuan lintas iman ICRP berencana untuk melakukan advokasi gender empowerment dengan memberikan pelatihan-pelatihan interpreneurship kepada ibu-ibu rumah tangga. Mereka akan memulai dengan konsep kewirausahaan sosial, sehingga lebih berkembang mandiri ke depan.

1.766 views

One comment

  1. memperjuangkan hak-hak perempuan boleh-boleh saja namun satuhal yang menjadi titik tekan dan yang diakatakan oleh penulis diatas adalah bagaimana kita melihat arah dari yang ingin dituju oleh penulis yaitu inggin menggugat konsep agama dalam bidang genderisme kata mereka, seperti yang kita ketahui bagaimana konsep genderisme yang digembar-gemborkan oleh para pengiat gennderisme sesungguhnya itu adalah konsep yang asing dan tidak pernah ditemukan dalam islam, bahkan penulis mengakuinnya sendiri dalam peragrab terakhir dia mengatakan kita harus belajar ke LSM amerika. seperti yang kita ketahui dalam konsep islam antara laki-laki dan perempuan itu adalah memang satu bentuk yang berbeda dan tidak bisa disamakan misal fisik, sifat, dll, namun dalam konsep islam dalam amal ibada antara laki-laki dan perempuan sama, kalau melakukan hal-hal yang melanggar aturan islam ya dapat hukuman baik laki-laki maupun perempuan tidak ada perbedaan disana dalam hukum islam. nah justru kalau perempuan mau dijadikan sama dengan laki-laki maka yang akan terjadi adalah bahaya, bahkan ide kesetaraan gender ini adalah bom waktu bukan hanya bagi indonesia namun juga bahkan bagi dunia, coba kalau kita lihat negara-negara barat yang sanggat getol mengiklankan genderisme coba lihat dengan kehidupan sosial mereka malah terjadi kacaubalau ambil saja satu contoh ketika para perempuan tidak lagi menganggap melahirkan sebagai kewajiban bagi perempuan karena mereka lebih mementingkan karir maka hasilnya coba lihat angka kelahiran eropa bahkan banyak para peneliti mengatakan bahwa eropa dalam beberapa tahun kedepan akan habis penduduknnya karena anggak kematian dan angka kelahirannya tidak seimbang, inilah salah satucontoh buruk dari genderisme, apakah konsep seperti ini mau kita terima?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

fifteen − 3 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>