Ketum Muhammadiyah

Takfirisme dan Dialog Sunni-Syiah Jadi Sorotan Ketum Muhammadiyah

JAKARTA, ICRP – Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah (PP Muhammadiyah) Haedar Nashir menekankan pentingnya menyegerakan dialog konstruktif antara Sunni dan Syiah. Menurutnya hal tersebut sudah diamanahkan dalam muktamaran Muhammadiyah kemarin.

“Kami menawarkan dialog Sunni-Syiah sebagai sesuatu yang memang harus dibuka di kalangan umat tanpa ada rasa kecurigaan. Karena jika tidak dibukaruang dialog maka akan memunculkan bahaya laten,” ucap Haedar Nashir dalam keynote speechnya di acara “Fikih Kebhinekaan : Pandangan Islam Indonesia Tentang Umat, Kewargaan dan Kepemimpinan Non Muslim” di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (20/8).

Haedar juga memberikan komentar terhadap naiknya kecenderungan takfirisme di masyarakat kini. Menurut Haedar pemahaman masyarakat mengenai Fikih memiliki korelasi terhadap semangat takfirisme. Dalam hal ini, kata Haedar Nashir, orang selalu melihat fikih sebagai produk yang memang rigid. “Sering orang fanatis buta pada mazhab justru menjadi terkerangkeng,” kata Haedar.

Penyusun buku “Ilusi Negara Islam” ini lebih lanjut mengatakn ┬ápenting sekali orang belajar bukan saja fikih namun juga ushul fikih. “Kalau orang belajar di pesantren maka ia harus belajar ushul fikih. Jika tidak maka ia akan terputus dari tujuan mempelajari fikih,” ucap Haedar.

Dengan mempelajari ushul fiqh, Haedar berharap muncul ruang untuk melakukan dekonstruksi dan rekonstruksi fikih sehingga fikih menjadi dinamis. Ia pun menambahkan perlunya seseorang untuk terbuka dalam tiap pembahasan fikih. Karena pada dasarnya, sambung Haedar, fikih itu sendiri memiliki keragaman pandangan dalam penafsiran terhadp teks baik Quran maupun Hadits.

Pandangan yang beragam dalam fikih, menurut Haedar, bukanlah hal yang asing pada dasarnya di Islam. “Kalau dilihat pada perkembangan awal Islam, fikih begitu beragam,” jelasnya.

Malam itu di aula Pusat Dakwah Muhammadiyah juga turut hadir tokoh-tokoh lintas agama seperti Romo Magnis Suseno, Uskup Agung Jakarta Mgr Suharyo , Ketua Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) Pdt. Gomar Gultom, dan lain-lain. Setelah keynote speech yang disampaikan ketum baru Muhammadiyah acara dilanjutkan dengan sesi diskusi. Ruangan Aula nampak sesak oleh peserta diskusi. Banyak para peserta yang terpaksa berdiri demi menyaksikan pembahasan diskusi malam itu.

1.524 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

1 + 6 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>