Pak Djohan bersama Sekretaris Yayasan ICRP Romo Hariyanto

Rindu Kantor, Pak Djohan Kunjungi ICRP

JAKARTA, ICRP – Tak disangka Senin (24/8) siang ini, sekretariat Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) keiadiran tamu spesial. Pendiri ICRP Bapak Djohan Effendi berkunjung ke kantor yang Ia cintai di Jalan Cempaka Putih Barat XXI no. 34.

Pak Djohan hadir bersama sekretaris Yayasan ICRP Romo Hariyanto. Menurut Romo Hari pendiri ICRP ini ingin membuka beberapa file yang tersimpan di akun emailnya. “Pak Djohan ingin membuka surel-surel yang berisi foto-foto kegiatan dirinya saat di ICRP,” ungkap Romo Hari.

Tak mau pak Djohan lebih lama menunggu, Lucia Wenehen membantu pendiri ICRP ini untuk mengakses email beliau.

Pak Djohan hari ini seperti biasa mengenakan tutup kepala ala sunda wiwitan. Meskipun kondisi masih belum sehat, Sahabat karib Wahib ini nampak bersemangat melihat-lihat kantor. ICRP memang menjadi tempat Ia berbagi ide dan gagasan tentang pandangan-pandangan  keagamaan   yang ramah dan toleran.

Djohan Effendi : Intelektual Bertenaga Aktivis

Pak Djohan merupakan sosok intelektual muslim yang kiprahnya bisa dibandingkan dengan tokoh sekelas Abdurrahman Wahid dan Nurcholish Madjid. Djohan yang dikenal sosok penyabar dan rendah hati ini telah banyak “makan garam” soal menyemai gagasan-gagasan pluralisme dan perdamaian antar umat beragama.

Semasa mahasiswa,   Djohan  muda pun banyak terlibat dalam organisasi kemahasiswaan, antara lain di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Semula,   Djohan sebenarnya kurang tertarik pada HMI. Pasalnya, ketika itu HMI pro-Masyumi. Jelas, ini berseberangan dengan semangat Djohan yang pluralis. Namun, ketika Partai Komunis Indonesia (PKI) mengintimidasi HMI, perasaan Djohan sempat tersentuh. Ia pun mendaftar sebagai anggota HMI Cabang Yogyakarta. Pemikirannya yang progresif, menempatkan Djohan–beserta Ahmad Wahib dan Dawam Rahardjo–dalam faksi tersendiri di tubuh HMI. Mereka bertiga dituduh partisan Partai Sosialis Indonesia (PSI). Akhirnya, pada tahun 1969, Djohan secara resmi mengundurkan diri dari HMI.

Lulus IAIN, dua tahun kemudian, Djohan ditempatkan di Sekretariat Jenderal Departemen Agama. Tak lama disana, lalu diangkat menjadi staf pribadi Menteri Agama Mukti Ali. Lima tahun menjadi staf menteri, Djohan sempat dikaryakan ke Sekretaris Negara. Kehadirannya di Setneg, khusus untuk membantu menyusun pidato-pidato mantan Presiden Soeharto. “Kesepakatannya, saya jangan dipaksa menulis hal-hal yang tidak saya setujui,” katanya mengenai pengalamannya.

Pada 1993, ia meraih gelar ahli peneliti utama Departemen Agama, setingkat dengan profesor atau guru besar di perguruan tinggi. Dalam pidato sambutan penganugerahan gelarnya, pemikiran moderat Djohan lagi-lagi mengemuka. Djohan menyinggung-nyinggung keberadaan kelompok penganut minoritas yang sering mendapat perlakukan tidak adil, seperti Konghucu dan Bahai. “Saya sempat disuruh menghapus bagian pidato itu. Tapi saya tidak mau,” tandasnya.

(sumber :tempo.co)

2.309 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

5 × 2 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>