Ilustrasi Turbah. Sumber: devianart.com
Ilustrasi Turbah. Sumber: devianart.com

Filosofi Turbah dan Insan Kamil

Oleh: Gayatri WM

Ketika shalat, umat Islam yang bertaklid kepada mazhab Jafari meyakini bahwa mereka harus sujud di atas hamparan sajadah alamiah, yaitu yang terbaik adalah tanah, atau yang lainnya seperti tikar dari anyaman daun-daun yang tidak dijadikan pakaian, dan di atas kedua punggung tangan. Oleh sebab itu, pada umumnya mereka bersujud di atas gumpalan tanah yang telah dibentuk sebagai batu, dan dikenal dengan nama turbah yang mereka letakkan di atas sajadah, karpet, dan atau perm­adani di masjid dan tempat-tempat mereka bersembahyang. Dalam Alkitab, terdapat riwayat mengenai Nabi Daniel yang bersembahyang dengan mengambil segumpal tanah untuk bersujud di atasnya. Dalam bahasa Turki, türbe adalah makam yang secara khusus adalah mausoleum untuk kaum bangsawan dan para wali, yang diambil dari bahasa Arab, “turba” yang juga berarti makam.

Dalam percakapan bahasa Indonesia, akhir-akhir ini muncul istilah “turbah” atau “turba” yang merupakan kependekan dari “turun ke bawah”, yaitu kegiatan yang dilakukan untuk terjun langsung ke masyarakat, semacam “blusukan”, maupun melakukan kegiatan-kegiatan yang membumi atau merakyat, dan atau berbaur ke masyarakat akar rumput, ke kelompok-kelompok marjinal, dan korban-korban yang membutuhkan uluran tangan kita, untuk mengetahui secara langsung kondisi, situasi, serta pikiran dan pendapat-pendapat mereka. Istilah ini tentu sangat menarik jika dapat disimbolisasikan dengan batu “turbah” yang biasa digunakan sebagian dari umat Islam yang sujud di atasnya, dan diasosiasikan pula dengan “turba” yang berarti makam.

Selama ini manusia modern telah semakin jauh dari hal-hal yang alamiah. Kita telah terbiasa oleh hal-hal yang bersifat artifisial, seperti cahaya dari lampu bukan dari matahari, makanan yang telah mengalami proses panjang di pabrik bukan langsung dari kebun, dan masih banyak lagi. Tanah merupakan simbol dari banyak hal yang berkaitan dengan kehidupan kita di muka bumi dimana kita sangat bergantung kepadanya dan bukan sebaliknya. Kita juga menyadari bahwa sebagai makhluk hidup pada akhirnya kita semua akan mati dan akan kembali ke tanah (dimakamkan). Tanah juga bermacam-macam bentuknya, sifatnya, kandungannya, dan yang tumbuh di atasnya. Demikian pula halnya dengan ciptaan Tuhan yang amat beranekaragam.

Sementara itu, para pemimpin dan kaum cendekiawan yang berada dalam menara gading memiliki kelemahan besar ketika mereka hanya duduk-duduk saja di atas tahta mereka, atau berada di depan meja saja membaca kitab-kitab dan pemikiran-pemikiran manusia, tanpa melakukan aksi turbah. Kelemahan tersebut adalah melahirkan kebijakan-kebijakan yang justru berpotensi besar melahirkan kezaliman kepada rakyat mereka, atau bagi cendikiawan adalah melahirkan pendapat-pendapat yang justru semakin merusak kehidupan di alam semesta karena diikuti oleh para raja dan penguasa yang menelurkan kebijakan-kebijakan bagi rakyatnya.

Seperti ketika seorang Muslim yang bersujud di atas turbah, seorang pemimpin atau seorang cendekiawan yang melakukan turbah langsung berhadapan dengan makhluk-makhluk yang hidup, yang nyata, yang secara alamiah langsung dibentuk dan diciptakan Tuhan. Untuk memberikan pelayanan yang terbaik sebagai penguasa, atau melahirkan pemikiran yang adil, seorang pemimpin atau seorang cendekiawan harus meniadakan keakuannya saat berhadapan dengan masyarakat dan alam untuk memandang, mengamati, mendengar dan menyimak secara seksama. Meniadakan keakuan atau tidak egois adalah seperti meniadakan diri sendiri, yang dapat kita asosiasikan kepada menturbakan diri, atau menguburkan diri sendiri demi kepentingan yang lebih luas, yaitu masyarakat dan alam seisinya.

Filosofi turbah juga dapat digunakan untuk manusia biasa yang bukan pemimpin atau cendekiawan, yaitu turun ke bawah, ke spesies lain yang umumnya kita anggap secara tingkatan makhluk lebih rendah daripada kita sebagai manusia. Sudah sepatutnya kita mengamati, menyimak, dan merangkul alam sekitar kita dengan cinta kasih sebagai sesama ciptaan-Nya dengan menghargai keberadaan mereka. Kita belajar untuk berdisiplin dalam kebersihan, mengurangi konsumsi kita pada benda-benda yang telah sedemikian parah merusak bumi (seperti kertas), dan banyak lagi hal lainnya yang pada intisarinya memelihara kesadaran kita bahwa kitalah yang membutuhkan alam dan bumi yang sehat dan bersih, bukan sebaliknya. Eksistensi kita sebagai manusia justru sangat bergantung kepada mereka, bukan sebaliknya. Dengan filosofi turbah, kita dapat menyadari bahwa tidak hanya manusia, tetapi juga hewan, tumbuhan, dan mineral-mineral yang mempunyai hak untuk berbahagia, atau hidup di alam ini dengan keadilan yang kita aktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari kita. Oleh karena kita sebagai manusia adalah makhluk yang diberikan anugrah untuk berkebudayaan dan melahirkan peradaban yang dinamis dan terus berkembang, maka adalah tanggungjawab kita untuk memelihara keberadaan kita semua di alam raya ini.

Sejatinya, jika seorang manusia telah berhasil untuk terus belajar dan berusaha melakukan aksi turbah, dia juga telah bersujud pada turbah, mengingat bahwa dirinya tiada lain adalah ciptaan-Nya yang niscaya akan kembali ke turba. Kita semua akan diturbakan untuk melanjutkan perjalanan ke kehidupan berikutnya. Sementara masih di dunia, manusia sepatutnya terus berproses menuju “insan kamil” (manusia sempurna) yaitu manusia yang memanusiakan dirinya dan memanusiakan sesama manusia, dan memanusiakan alam raya. Yaitu, terus-menerus berusaha menyadari bahwa “Tiada aku melainkan Engkau” dalam setiap doa, sembahyang, dan kehidupan sehari-hari.

Rahayu. Semoga semua makhluk berbahagia.

 

 

1.215 views

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

18 + one =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>