lithang umat konghucu. sumber: finekochi.blogspot.com
lithang umat konghucu. sumber: finekochi.blogspot.com

Cinta Kasih dalam Ajaran Khonghucu

Ahmad Nurcholish

Ajaran Khonghucu bersumber dari ajaran para nabi purba di Tiongkok yang dirumuskan dan disempurnakan oleh Nabi Khongcu (551- 479 SM). Artinya, sebelum Nabi Khongcu lahir bahan ajaran “agama Khonghucu” itu sudah ada. Saat itu disebut Ru Jiao. Nabi Khongcu menyebut dirinya sebagai pengikut agama Ru Jiao itu. Sebutan agama Khonghucu untuk agama Ru Jiao itu hanya di Indonesia karena para pegawai pemerintah kolonial Belanda tidak tahu sebutan Ru Jiao, mereka hanya tahu nama Nabi Khongcu atau Khonghucu. Namun, sebutan agama Khonghucu sudah sangat dikenal di Indonesia, maka seterusnya tetap menjadi sebutan resmi di Indonesia. Dalam bahasa Tionghoa agama Khonghucu tetap disebut dengan Ru Jiao. (Xs. Dr. Oesman Arif, M.Pd, 2013)

Ru, dalam bahasa Tionghoa artinya orang terpelajar yang bersikap lemah lembut. Orang yang telah mempelajari ajaran Ru seyogyanya selalu menjaga penampilan dan perilaku sebagai orang terpelajar yang bersikap santun. Pada masa Nabi Khongcu, ajaran Ru hanya  dianut oleh para cendekiawan dan pejabat Negara. Oleh karena itu agama Ru mempunyai arti konotatif sebagai agamanya orang terpelajar dan lemah lembut. Kata Ru itu sendiri dilihat dari hurufnya bisa diartikan sesuatu yang diperlukan manusia. Artinya ajaran agama Ru itu diperlukan manusia sebagai pedoman hidup yang benar.

Kitab-kitab yang dianggap suci dan dijadikan pedoman bagi kehidupan  beragama umat Khonghucu adalah “Su-Si” (Kitab yang Empat atau Empat Kitab) dan “Wu Cing” (Ngo King atau kitab lima). Kitab-kitab suci itu antara lain kitab Su Si yang aslinya berbahasa Mandarin (bahasa nasional Tiongkok). Kitab ini diterjemahkan oleh Matakin ke dalam bahasa Indonesia. Kitab ini dicetak dalam bahasa Indonesia pertama kali pada tahun 1996. Kitab ini ditetapkan sebagai kitab agama Khonghucu di Indonesia pada  bulan Agustus 1967, yaitu saat konggres agama Khonghucu ke 6 diselenggarakan. Dalam konggres tersebut, tidak hanya menetapkan Su Si (empat kitab) dan Ngo King (lima kitab) sebagai kitab agama Khonghucu, namun konggres juga menetapkan sifat upacara agama Khonghucu. (Lihat,http://www.psychologymania.com/2013/07/ajaran-agama-konghucu.html)

Pada zaman Nabi Khongcu, di Tiongkok sedang berada dalam situasi kacau, negara terpecah belah menjadi puluhan kerajaan kecil yang saling berperang berebut wilayah. Nabi Khongcu melihat keadaan seperti itu ingin memperbaikinya. Selama empat belas tahun ia berupaya untuk itu. Tetapi tidak berhasil. Akhirnya ia kembali ke negeri Lu tanah kelahirannya dan membuka sekolah gratis dengan menerima tiga ribu orang murid. Salah seorang muridnya bernama Xun Zi (326-233 SM). Sang murid inilah yang  berhasil merumuskan ajaran atau teori untuk menyatukan Tiongkok kembali. Tahun 221 SM Qin Shi Huang Di berhasil menyatukan Tiongkok dengan bantuan Li Shi seorang murid Xun Zi.

Xun Zi merumuskan ajaran Nabi Khongcu dalam bentuk ajaran yang praktis untuk membina masyarakat agar hidup rukun, damai, dan sejahtera. Ajaran Xun Zi ini besifat realistis positif. Semua orang dalam suatu negara dihimpun dalam organisasi yang tertib dan program kerjanya jelas. Jika  ada orang yang tidak terhimpun dalam organisasi  mungkin menjadi sengsara hidupnya, mungkin juga akan menjadi pengacau. Organisasi yang dimaksud anggotanya meliputi penduduk di daerah terpencil, setiap 50 orang satu unit dengan pengurus atau pimpinan orang pandai.

Menurut Xun Zi, demikian Oesman Arief menjelaskan, masyarakat tidak rukun karena tidak ada cinta kasih dan rasa keadilan dalam masyarakat. Dengan menumbuhkan cinta kasih dan rasa keadilan dibangun nilai kesusilaan yang dijadikan tatanan moral masyarakat.

“Tatanan moral yang wajib ditaati seluruh masyarakat  perlu dimasukkan dalam hukum formal. Orang yang melanggar hukum formal harus dijatuhi hukuman berat agar yang lain tidak berani ikut melanggar. Suatu organisasi, terutama negara, tidak boleh lemah menghadapi orang yang menyimpang dari tatanan moral dan hukum. Kalau pimpinan organisasi tegas dan konsisten orang baik terlindung, dan orang jahat takut berbuat kejahatan”. (Oesman Arif, Ibid)

Dalam ajaran Khonghucu, selain menjunjung tinggi cinta kasih, agama ini juga menentang keras tindak kekerasan, baik yang dilakukan oleh negara kepada rakyatnya, maupun kekerasan yang dilakukan oleh sesama rakyat atau warga negara. Perbuatan kekerasan itu bisa dilakukan oleh orang yang mempunyai jabatan tinggi, juga bisa dilakukan orang biasa. Bisa dilakukan oleh remaja, bisa pula dilakukan oleh siapa saja yang tidak dapat mengendalikan dirinya. Karena itu setiap orang perlu dilatih untuk mengendalikan dirinya agar tidak berbuat sesuatu yang tidak pantas, termasuk melakukan perbuatan kekerasan.

Melatih orang mengendalikan diri itu, dalam Ru Jiau, harus dimulai dari kanak-kanak. Anak kecil mudah sekali melakukan tindak kekerasan kepada siapa saja yang menjadi sasaran kemarahannya. Jika anak kecil tidak diarahkan melalui pendidikan yang benar, setelah besar pasti akan berbuat kekerasan untuk melampiaskan amarahnya.  Pendidikan dalam agama Khonghucu diutamakan membantu siswa membina diri, menguasai emosi dan nafsunya dan meningkatkan kecerdasannya. Para remaja dilatih seni beladiri Kungfu dan kesenian Barongsay tujuannya untuk menyalurkan energy yang berlebihan. Dengan berkesinan dan beladiri itulah energi remaja tersalurkan dalam aktivitas positif yang bermanfaat baik bagi diri mereka.

Bagi mereka yang mendapatkan kepercayaan untuk memangku jabatan atau kekuasaan, wajib untuk memelihara dan menjaga kepercayaan tersebut dengan kejujuranb (Da Xue X: 14). Kejujuran itu tidak hanya ditujukan kepada sesama manusia dalam mengemban kewajibannya, melainkan pula dipertanggungjawabkan kepada Thian (Tuhan). Sebaliknya, jika dengan jabatannya seseorang memperkaua diri sendiri dan berdampak pada kesenghsaraan masyarakat, perbuatan itu bukan saja tidak bermoral tetapi juga merupakan pembangkangan terhadap Sang Khalik. Dan setiap tindakan tak terpuji akan selalu berakibat buruk pula (Shu Jing IV, V, 8).

Oleh karena itu seorang penganut Ru Jiao yang diselimuti Cinta Kasih akan menggunakan hartanya untuk membina diri, dan bukan sebaliknya menumpuk harta seraya mengabaikan sesamanya yang berkekurangan. Seorang pemangku jabatan yang berperi-Cinta Kasih, akan menginspirasi bawahannya untuk selalu berjalan pada jalan Kebanaran (Da Xue X: 20-21). (Xs. Tjandra R. Muljadi, 2006: 79)

Cinta Kasih itu sendiri merupakan dasar dari agama Khonghucu. Jin (cinta kasih) sangat erat kaitannya dengan Lee (kesusilaan), dimana cinta kasih berarti menempatkan diri dalam batas-batas kesulilaan dan hanya yang bersangkutan sendirilah yang dapat mengembangkannya. Kesusilaan mempunyai makna yang sangat luas dan dapat disimpulkan sebagai sopan santun hidup, meliputi seluruh aspek tata-pergaulan hidup manusia.

Selain cinta kasih, Ru Jiao juga memiliki ajaran sipiritual yang disebut Tiong (setia) dan Si (tenggang menenggang). Tiong adalah melaksanakan tugas sepenuh hati dan sepenuh tenaga. Si tidak melakukan perbuatan terhadap orang lain yang dirinya sendiri tidak mau diperlakukan dengan perbuatan semacam itu.

Ajaran Cinta Kasih Ru Jiao akan menjadi sempurna ketika ditopang oleh ajaran Delapan Kebijakan, yang meliputi Hauw (tindak laku baik), Tee (rendah hati), Tiong (setia), Sin (dapat dipercaya), Lee (kesusilaan),Gi (keadilan, kebenaran), Lhian (suci hati), dan Thi (tahu malu). [ ]

2.820 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

7 + eighteen =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>