Ulil Abshar ngaji

Inilah Pendapat Lengkap Ulil Abshar Abdalla Soal LGBT

Beberapa pekan ini, perhatian masyarakat dan media Indonesia cukup terkuras dengan meledaknya isu (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) LGBT. Entah dari mana mulainya, dan akan sampai kapan LGBT ini akan terus menjadi headline dan trending topic media sosial kita. Menanggapi kegaduhan soal isu LGBT ini, Ketua Umum Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Ulil Abshar Abdalla menyampaikan pesan terkait pandangan terhadap LGBT.

Berikut petikan lengkap Ulil:

PENDAPAT SAYA SOAL LGBT

Ulil Abshar Abdalla

Saya mau share sikap saya soal LGBT yang sedang ramai dibicarakan di sejumlah grup WA akhir2 ini. Saya memegang dua prinsip dalam menyikapi isu ini. Prinsip sains dan prinsip “generosity” atau kedermawanan dan toleransi.

Saya yakin seyakin2nya (orang lain boleh beda pendapat dengan saya), bahwa dua prinsip itu sesuai dengan ajaran Islam. Islam mengajarkan kita umat Islam untuk menghargai sains dan pengetahuan. Ilmu dan derivasinya disebut berkali2 dalam Quran; menunjukkan betapa pentingnya ilmu menurut Islam.

Sementara itu “generosity” atau sikap kedermawanan juga diperintahkan oleh Islam. Sikap “generous” yg saya maksud di sini ialah sikap toleran, dermawan pada orang lain, menghargai mereka, meskipun mereka beda dengan kita. Sikap ini sesuai dengan ajaran dalam Quran sebagaimana tertuang dalam 49:13.

Berdasarkan dua prinsip ini, saya akan menentukan sikap saya sebagai Muslim terhadap LGBT.

Pertama, “prinsip sains”. Sudah seharusnya seorang Muslim bersikap terhadap segala hal berdasarkan data dan bukti sains, jika masalah yang ia hadapi melibatkan fakta2 sains. Mengabaikan sains jelas tidak sesuai dengan ajaran Quran.

Apa kata sains tentang LGBT? Apakah ini penyakit atau variasi preferensi seksual yang lumrah saja? Ada dua cabang sains yang terlibat dalam penelitian soal LGBT ini: psikologi/psikiatri dan biologi, terutama cabang biologi yang berurusan dengan genetika.

Sekarang kita lihat dulu apa kata psikiatri. Untuk waktu yang lama, psikiatri di dunia Barat menganggap bahwa homoseksualitas adalah penyakit. Yang pernah menonton film “Game Theory” tentang ilmuwan Inggris yang meletakkan landasan untuk komputer modern, Alan Turing, pasti tahu bagaimana otoritas di Inggris saat itu (pada tahun 50an) masih menganggap LGBT sebagai penyakit, bahkan kejahatan. Karena itu Turing dipaksa untuk melakukan terapi yang dalam dunia psikiatri biasa disebut “reparative therapy”. Turing akhirnya bunuh diri, karena tak kuat menghadapi terapi itu.

Baik otoritas sains dan politik di Inggris hingga dekade 50an saat Turing hidup beranggapan bahwa homoseksualitas adalah “mental disorder”, bahkan kejahatan, yang harus diobati.

Tetapi riset tentang homoseksualitas tak pernah berhenti. Pada tahun 70an, pendapat para ahli psikiatri di dunia mulai berubah. Berdasarkan riset2 mereka, disimpulkan bahwa homoseksualitas bukanlah penyakit atau ” mental disorder”, tetapi variasi preferensi seksual yang wajar. Pada 1973, American Psychiatric Association mencabut homoseksualitas dan lesbianisme dari daftar penyakit mental. Pada 1975, American Psychological Association juga mengambil langkah serupa. Ahli2 psikiatri dan psikologi di seluruh dunia mengikuti langkah ini.

Langkah ini juga diikuti di Indonesia. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) yang menjadi acuan para ahli psikiatri di Indonesia sudah mengeluarkan homoseksualktas dan lesbianisme dari daftar penyakit mental. Dalam PPDGK edisi II 1983 dan edisi III 1993, homoseksualutas sudah dikeluarkan dari daftar penyakit mental.

Hingga sekarang ini, konsensus saintis di dunia sudah nyaris final: bahwa homoseksualitas bukan penyakit, dan karena itu terapi (“reparative therapy”) untuk preferensi seksual ini sama sekali tak disarankan, bahkan ditolak. WHO pada 1990 mengikuti konsensus ini: bahwa homoseksualitas bukanlah penyakit, tetapi preferensi yang biasa saja. Preferensi ini ada dalam dunia binatang, dan dalam jumlah yg banyak, begitu juga dalam dunia manusia.

Sebaiknya, seorang Muslim dalam menyikapi soal LGBT ini bersandar pada sains, bukan berdasarkan tradisi dan pendapat generasi2 terdahulu. Quran melarang “taqlid” pada “ajdad” atau leluhur tanpa dasar pengetahuan yang cukup.

Bagi saya, soal LGBT ini sudah nyaris final secara sains, sama dengan final-nya posisi sains tentang teori gravitasi atau evolusi. Rasanya sains susah berubah pendapat soal gravitasi dan evolusi lalu mengingkarinya sama sekali. Sebagaimana sains juga susah dibayangkan akan mengubah pendapatnya soal homoseksualitas ini.

Kesimpulannya: LGBT bukan penyakit menurut sains modern. Karena ajaran Quran mengharuskan kita menghargai sains, maka sudah sepatutnya pandangan kita umat Islam mengenai isu ini juga berubah, dan tidak sekedar mengikuti pandangan yg diwariskan oleh tradisi kita dulu.

Sementara itu prinsip “generosity” yang merupakan prinsip Islami mengahruskan seorang Muslim untuk menghindari sikap2 homofobia, yaitu membenci orang2 yang memiliki preferensi homoseksual.

Kita boleh saja tak sepakat dengan mereka, bahkan membenci atau jijik pada prilaku seksual mereka. Tetap ketidaksukaan kita pada mereka tak boleh menghalangi kita untuk bersikap adil pada mereka. Quran mengajarkan kita untuk bersikap adil, bahkan terhadap mereka yg kita tak suka (QS 5:8). Ini, setahu saya, adalah ayat yg kerap dikutip oleh Cak Nur dulu.

Sebab sikap adil itu lebih dekat kepada ketakwaan, demikian kata Quran.

Manifestasi sikap adil pada kaum LGBT adalah memberikan hak2 hidup yg sama pada mereka, bukan mendiskriminasikan.

Salah satu sikap adil juga adalah tak memaksa LGBT melakukan terapi penyembuhan. Satu2nya terapi yg diperbolehlan adalah dalam satu kasus ini: yaitu menakala ada orang LGBT yang merasa terganggu dengan kecenderungan seksualnya. Jika yang bersangkutan merasa terganggu dengan homoseksualitas dan minta diterapi, maka terhadap dia boleh dilakukan tindakan “reparative therapy”. Tetapi terapi ini tak boleh kita paksakan kepada kaum LGBT hanya karena pendapat kita bahwa LGBT adalah penyimpangan.

Hal terakhir yang mau saya ulas adalah anggapan populer bahwa LGBT menular. Menurut penelitian sejauh ini, tak benar LGBT menular. Dia hanyalah bisa menular pada orang2 yang memang sejak awal memiliki kecendetungan LGBT.

American Psychological Associaton menyarikan konsensus mutakhir di kalangan sains seperti ini:

Although much research has examined the possible genetic, hormonal, developmental, social, and cultural influences on sexual orientation, no findings have emerged that permit scientists to conclude that sexual orientation is determined by any particular factor or factors. Many think that nature and nurture both play complex roles; most people experience little or no sense of choice about their sexual orientation.”

Demikian urun pendapat saya. Semoga berguna. ***

2.429 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

sixteen − 6 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>