Keindahan Raja Ampat. Sumber: Dok. Ahmad Nurcholish
Keindahan Raja Ampat. Sumber: Dok. Ahmad Nurcholish

Raja Ampat dan Ikhtiar Perdamaian

Oleh: Ahmad Nurcholish

Menjadi pengalaman berharga sekaligus menyenangkan ketika pekan lalu saya dapat berkunjung ke Raja Ampat yang namanya telah mendunia itu. Pada 18 hingga 22 Oktober lalu, atas undangan dari panitia  Festival Pesona Raja Ampat 2016, saya berada di kabupaten yang terletak di bagian barat kepala burung (Vogelkoop) Pulau  Papua.

Selain menjelajahi pulau Painemu, Kampung Arborek dan Pasir Timbul saya juga bertemu dengan para pimpinan pemerintahan di kabupaten Raja Ampat tersebut. Dua diantaranya adalah Abdul Faris Umlati sang bupati dan Yudis N Lamatenggo yang menjabat sebagai kepala dinas pariwisata kabupaten di Papua Barat ini.

Pertemuan dengan Abdul Faris Umlati kami lakukan pada Jumat pagi (21/10) di kantornya. Saya ditemani oleh Pendeta Frangky Tampubolon dan Jonni Hermanto, seorang politisi yang memiliki daerah pemilihan di Papua Barat.

Ada sejumlah hal menarik yang kami bincangkan pagi itu yang kemudian saya namai dengan ikhtiar perdamaian. Ikhtiar inilah yang akan segera kami rancang agar kiranya dampar direalisasikan mulai awal tahun 2017 mendatang.

Pertama, Gong Perdamaian. Ini merupakan murni gagasan dari bupati Raja Ampat tersebut. Ia menginginkan di Raja Ampat itu ada prasasti perdamaian berbentuk gong sebagaimana yang sudah ada di Ambon, Ciamis, Yogyakarta dan Kupang.

Gong perdamaian di sejumlah tempat tersebut tentu hanya simbol semata. Ia memiliki arti dan pesan yang luar biasa. Gong dapat kita maknai sebagai suara yang menggema, sedangkan perdamaian tidak lain adalah sebut keadaan yang harmoni, nirkekerasan. Jadi, Gong Perdamaian merupakan simbol bagi upaya untuk selalu mewujudkan perdamaian di bumi pertiwi khususnya dan di muka bumi umumnya.

Ahmad Nurcholish saat bertemu dengan jajaran Pemerintah Raja Ampat. Sumber: Dok. Ahmad Nurcholish

Ahmad Nurcholish saat bertemu dengan jajaran Pemerintah Raja Ampat. Sumber: Dok. Ahmad Nurcholish

Menyambut gagasan sang bupati itulah kami mengusulkan untuk menghelat kegiatan pengantar sebagai penopang dari dibangunnya Gong Perdamaian.

Kedua, Peace Camp Pemuda Lintas Agama. Inilah yang kami usulkan sebagai kegiatan pengantar sebagai penopang Gong Perdamaian itu. Kemah perdamaian menjadi penting agar prasasti Gong Perdamaian lebih menggema seantero nusantara, bahkan dunia sebagaimana mendunianya nama Raja Ampat.

Mungkin saja namanya The Adventure Peace Camp (TAPC) yang memadukan antara kegiatan wisata dan kemah perdamaian. Perpaduan ini akan membawa dua misi sekaligus, yakni promosi pariwisata dan mengajak generasi muda untuk memegang peran sebagai promotor sekaligus penggerak perdamaian.

Bayangkan jika TAPC ini bisa diikuti oleng 200-an pemuda lintas agama dari seluruh Indonesia, maka kita telah melakukan proses investasi terhadap upaya menjaga persatuan NKRI, toleransi antar umat beragama dan mewujudkan perdamaian sebagai misi utama dari ikhtiar ini.

Ketiga, Peacesantren. Ini bukan pesantren biasa laiknya yang sudah ada di Indonesia. Peacesantren adalah pesantren perdamaian, sebuah lembaga pendidikan atau pembelajaran yang memfasilitasi generasi muda untuk belajar dan menyiapkan diri sebagai peacemaker (pelaku atau pengupaya perdamaian.

Dalam sejumlah kesempatan saya sudah pernah melontarkan gagasan ini. Juga melalui beberapa tulisan yang sudah terbit di beberapa media. Ide ini pula yang disambut baik oleh sang bupati Raja Ampat buntu dapat direalisasikan.

Dalam benak saya, peacesantren tidak hanya menerima siswa muslim sebagaimana di pesantren yang kita kenal semata ini. Di peacesantren ini semua siswa dari berbagai agama bisa mendaftar menjadi santri atau siswanya. Padi hingga siang hari mereka belajar di sekolah sebagaimana dilakukan siswa-siswi lainnya. Pada sore hingga malam hari  mereka belajar tentang perdamaian.

Tak hanya itu, di area peacesantren juga akan didirikan sejumlah rumah ibadah sebagai representasi dari agama-agama yang ada di Indonesia. Ada mesjid, gereja, vihara, pura, lithang, gurudwara, dan lainnya. Rumah-rumah ibadah ini nantinya akan dikelola oleh pimpinan dan umat sesuai agama tersebut. Dibangun di satu area yang sama tujuannya agar para pimpinan dan jemaat rumah ibadah tersebut dapat saling berjumpa, berinteraksi dan berdialog satu sama lain dengan semangat saling menghargai, menghormati dan toleransi.

Selain sebagai lembaga pendidikan atau pembelajaran bagi studi agama dan perdamaian, peacesantren tersebut tentunya dapat dijadikan sebagai destinasi wisata yang unik pertama di Indonesia, bahkan mungkin di dunia. Ia akan menjadi simbol bergerak yang akan mengukuhkan Papua sebagai The Land of Peace yang dicanangkan beberapa tahun silam.

Gagasan-gagasan tersebut memang tidak madah untuk diwujudkan, tapi jika sejumlah pihak yang memiliki perhatian besar terhadap keutuhan negeri ini, terhadap kehidupan umat beragama dan misi perdamaian yang menjadi impian setiap kita, maka bukan mustahil dapat diwujudkan dengan segera. Semoga!

Ahmad Nurcholish, pengampu Studi Agama dan Perdamaian dan Pengasuh Pesantren Nusantara, Depok, Jabar.

515 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

19 − 16 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>