Mengenang Hasyim Muzadi
Mengenang Hasyim Muzadi

Mengenang Almarhum K.H.Hasyim Muzadi

Oleh: Musdah Mulia

Tahun 2004 dalam Kongres ke-8 WCRP (World Conference on Religions for Peace) di Kyoto, Jepang kami dari ICRP mengusung K.H. Hasyim Muzadi sebagai Presiden WCRP mewakili Indonesia. Sejak itu dalam setiap event WCRP di berbagai negara, aku sungguh menikmati perjalanan bersama beliau. Jalan dan ngobrol santai bareng Pak Yayi -begitu biasa aku memanggilnya- adalah hal mustahil di tanah air mengingat kesibukan masing-masing, apalagi beliau dengan segudang jabatan.

Tahun 2008 kami bertemu di Vatikan, beliau jalan sendiri krn isteri tercinta sedang kurang sehat. Tiba-tiba sore hari beliau memintaku ke kamarnya. Deg…jantungku berdebar, firasatku menyiratkan ini pasti terkait pandanganku soal LGBT yang beliau tidak setuju. Sebagai warga NU aku sudah siap dimarahi oleh “boss”.

Sampai di kamar, beliau sedang duduk di tempat tidur mengenakan kaos oblong dan bersarung khas kyai pesantren. Silakan duduk di sini sambil menepuk tempat tidur. Dengan penuh ketakutan aku duduk sbg terdakwa. Lalu, dg suaranya yg berat, tapi pelan dan lembut beliau membuka pembicaraan: “begini ya, saya menerima banyak laporan terkait pandangan Musdah akhir-akhir ini. Tapi, sebagai Orang tua saya lebih percaya anak sendiri ketimbang omongan di luar, saya ingin mendengar langsung dari Musdah.

Aduuh kalimatnya itu bagaikan air dingin membasahi tubuh yg kepanasan. Seketika aku tdk melihat sosok Pak Hasyim, terbayang di hadapanku sosok ayah menasehati puterinya dengan sangat bijak. Aku pun menjelaskan dengan tuntas pandanganku yang sedang hangat diperbincangkan. Beliau menarik nafas panjang, “Ohhh rupanya pandangan Musdah banyak diplintir dan kelompok itu banyak salah pahamnya, dan saya kira itu pasti disengaja untuk menyudutkan Musdah.” Beliau kemudian menjelaskan panjang-lebar tentang berbagai taktik dan strategi keji kalangan Islam transnasional untuk melemahkan NU. Istilah Kelompok Islam Transnasional pertama kali aku dengar dari beliau. Belum pernah aku melihat ulama yang begitu geram terhadap kalangan fundamentalisme Islam seperti beliau.

Tak terasa dua jam lebih kami berbincang dan pembicaraan meluas ke berbagai isu terkait NU, Islam dan Indonesia, bahkan juga masalah-masalah global. Sejak itu aku yakin betul beliau adalah ulama yang berwawasan luas dan sikapnya amat pluralis. Sosok yang hangat, ramah dan sangat luwes dlm pergaulan. Satu hal membuat kita tak akan bosan duduk dekatnya adalah humornya yang begitu jenaka dan sarat makna. Misalnya, kata beliau: “dulu orang2 NU ke mesjid kehilangan sendal, berikutnya kehilangan tongkat, ehhh sekarang malah kehilangan mesjidnya sekalian.”

Banyak anekdot beliau yg tanpa sadar membuatku tersenyum sendirian. Salah satu ciri khas ulama NU adalah kaya humor. Mungkin itu sebabnya dalam menyikapi hal-hal pelik terkait apa pun, termasuk pertentangan dalam pemahaman Islam, mereka tidak perlu tegang, apalagi ngamuk dan teriak-teriak kalap.

Akhirnya, selamat jalan Pak Yayi, Allah Yang Maha Pengasih pasti telah menyiapkan tempat terpilih untuk hambanya terkasih, beristirahatlah dengan damai dan bahagia di alam keabadian.

124 views

One comment

  1. Semoga beliau diterima amal ibadahnya, dilapangkan kuburnya dan dimasukan kedalam Surga Firdaus :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

3 × 2 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>